Peran Sahabat Dalam Perkembangan Bahasa Pada Remaja Usia Sekolah Menengah


Peran Sahabat Dalam Perkembangan Bahasa Pada Remaja Usia Sekolah Menengah
Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaedah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya.
Bahasa prokem adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong duafonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa.
Dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesama sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal dengan bahasa ‘gaul’. Disamping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya. Menurut Piaget, remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks. Menurut Owen,remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul. Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja.
Tekanan dari kawan sebaya (Peer Pressure)
Tekanan dari kawan sebaya yang dihadapi anak-anak dalam pembelajaran bahasa, berbeda dengan yang dihadapi oleh orang dewasa. Anak-anak biasanya mempunyai paksaan yang kuat untuk menyesuaikan. Mereka diberitahu dalam kata-kata, pemikiran-pemikiran, dan tindakan-tindakan bahwa mereka seharusnya ”seperti anak-anak yang lainnya”. Seperti tekanan dari kawan sebaya terhadap bahasa. Orang dewasa juga mengalami tekanan dari kawan sebaya, namun dalam bentuk yang berbeda, orang-orang dewasa cenderung lebih menoleransi perbedaan linguistik daripada anak-anak, oleh karena itu kesalahan dalam ucapan lebih mudah dimaafkan.
Bila kita mengamati perkembangan kemampuan berbahasa anak, kita akan terkesan dengan pemorelaha  bahasa anak yang berjenjang dan teratur. Pada usia satu tahun, anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya yang terdiri dari satu kata yang kadang-kadang tidak jelas, tetapi sesungguhnya bernakna banyak. Contoh : anak mengucapkan kata “makan”, maknanya mungkin ingin makan, sudah makan, lapar atau mungkin makanannya tidak enak, dsb.
Pada perkemnbangan berikutnya, mungkin anak sudah mengucapkan dua kata. Contoh : “mama masak”, yang maknanya dapat berarti ibu masak, ibu telah masak, atau ibu akan masak sesuatu. Demikian seterusnya hingga umur enam tahun anak telah siap menggunakan bahasanya untuk belajar di Sekolah Dasar (SD), sekaligus dengan bentuk tulisan-tulisannya.
Kemudian  pada usia lanjutan, kemampuan dasar berbahasa yang ditanamkan orang tua kepada anak akan berpadu dengan adanya pengetahuan akademik yang didapatkan sang anak pada jenjang akademik, mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan selanjutnya Perguruan Tinggi. Tidak ada masalah dengan pengenalan etika, sistem serta tatanan pola pikir yang ditanamkan oleh para Guru serta Pengajar. Tetapi sebenarnya pengaruh-pengaruh negatif itu datangnya dari lingkup masyarakat yang tak kondusif, walaupun memang ada pada sebagian anak yang mendapatkan ajaran kuat, sehingga tak berpengaruh terlalu buruk pada anak.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a). Umur anak
Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman, dan meningkatnya kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat
b). Kondisi lingkungan
Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.
c). Kecerdasan anak
Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.
d). Status sosial ekonomi keluarga
Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan  anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.
e). Kondisi fisik
Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya  untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan dalam berbahasa.

Daftar Pustaka
Hamid, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: PPLPTK Depdikbud.